Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Mualaf. Mereka mengubah keyakinan dulu menjadi sepenuhnya memeluk Islam dan mengakui keesaan Tuhan. Di tengah caci maki banyak kalangan terhadap agama dibawa Nabi Muhammad, Islam justru berkembang cukup pesat. Bahkan beberapa waktu lalu di surat kabar the Daily Mail, Islam bakal menjadi agama utama di Inggris satu dekade lagi.
Anda beragama Islam diajak mengenal tokoh-tokoh mualaf sangat inspiratif. Mereka datang dari latar belakang berbeda dengan satu tujuan, menjalankan kehidupan sesuai perintah Allah SWT termaktub dalam kitab sucinya Al-Quran.
Dilansir dari pelbagai situs dan surat kabar yakni dailymail.co.uk, the Guardian, dan sebagainya. Berikut lima kisah mualaf paling inspiratif sejagat.



1. Bilal Philips, mualaf mampu Islamkan 3.000 tentara Amerika

Abu Ameenah Bilal Philips bernama asli Dennis Bradley Philips. Dia berdarah Jamaika namun masa kecilnya dihabiskan di Kanada. Perjalanannya mengenal Islam menarik untuk disimak.
Sebelum menjadi muslim, Philips menganut musik dan cinta sebagai agamanya. Dibesarkan dalam kultur musik Jamaika kental membuat ia memilih menjadi gitaris. Di kesengsem Jimi Hendrix dan Bob Marley. Saat berkuliah di Universitas Simon Frasier, Kota Vancouver, Kanada, dia kerap ngamen di klub dan kafe mempertontonkan kemahirannya bermain musik.
Bermain musik memberikan kesempatan pria kelahiran Jamaika, 6 Januari 1946, ini menjelajah ke berbagai negara, termasuk Malaysia dan Indonesia pada 1960-an. Di dua negara berpenduduk mayoritas Islam ini, Philips mulai tertarik mempelajari agama Nabi Muhammad.
Balik ke negaranya pada 1972, lelaki berjanggut ini memutuskan mempelajari Islam secara intensif. Dia kerap berdiskusi dengan para cendekiawan muslim dan mempelajari buku-buku agama rahmatan lil alamin ini. Tak perlu waktu cukup banyak, beberapa bulan kemudian Philips mengucapkan dua kalimat syahadat, tanda sumpah serta pengakuan keesaan Allah dan Rasulullah sebagai utusanNya.
Setelah menjadi muslim, Philips memutuskan berhenti menjadi musikus dan mempelajari agama barunya lebih dalam. Dia mengaku tidak nyaman lagi bermusik. "Menjadi artis rentan terhadap perilaku dilarang Allah seperti obat-obatan, seks bebas, perempuan, dan pergaulan salah. Saya tidak mau seperti itu lagi," ujarnya.
Dia kembali bersekolah dengan mendaftarkan diri ke jurusan studi Islam di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Alasannya, dia ingin belajar Islam dari sumber klasik di kota-kota bersejarah dan bukan budaya prakteknya. "Beda lingkungan akan berbeda menerjemahkan Islam," kata Philips.
Kelar di Universitas Madinah, Philips terus belajar. Kali ini dia mendaftar program master di Universitas Riyadh. Selain berkuliah, dia juga nyambi menjadi pembawa acara Why Islam di Channel Two, stasiun televisi milik pemerintah Saudi. Acara seputar wawancara dengan para muallaf dari berbagai latar belakang dan ketertarikan mereka mempelajari Islam. Dengan membawa acara itu, Philips mengaku imannya semakin kuat. Tak cuma menjadi presenter, dia juga menulis buku, antara lain Poligami dalam Islam dan Prinsip Dasar Iman dalam Islam.
Kelar kuliah S2 pada 1990-an, Philips bekerja di departemen agama markas besar Angkatan Udara Arab Saudi di Ibu Kota Riyadh. Kala itu Perang Teluk tengah berkecamuk. Irak menginvansi ke Kuwait karena menolak menghapus utang luar negeri negeri Saddam Hussein itu. Posisi Kuwait kewalahan dan meminta bantuan ke Amerika Serikat. Negara adidaya itu mengirimkan pasukannya dan membuat pangkalan di Arab Saudi.
Ketika tentara Amerika bermarkas di Negeri Petro Dollar itu, Philips kebagian memberikan materi tentang Islam kepada mereka. Ini penting untuk mengajarkan pengetahuan benar Islam bukanlah agama menyukai kekerasan. Hasilnya, sekitar tiga ribu serdadu Amerika masuk Islam.
Selepas Perang Teluk, Philips dikirim ke Amerika untuk mendampingi para tentara muallaf itu. Dia mendapat bantuan dari anggota tentara beragama Islam untuk membuat konferensi dan kegiatan. Usahanya ini membuahkan hasil dan militer Amerika akhirnya membangun musala di seluruh pangkalan militer mereka.
Kelar proyek itu, Philips hijrah ke Filipina dan mendirikan pusat informasi di Mindanao serta universitas berbasis Islam di Cotobato City. Pada 1994, Philips mendapat undangan bergabung dengan lembaga amal Dar Al Ber di Dubai, Uni Emirat Arab. Di sana ia membentuk pusat informasi Discover Islam di Kota Karama. Proyeknya kali ini mengundang ulama dari pelbagai negara. Dalam lima tahun, pusat informasi itu telah membuat 15 ribu orang dari seluruh penjuru dunia mengucapkan dua kalimat syahadat.



2. Daniel Streich, benci masjid namun kini bersujud
Daniel Streich, anggota Partai Rakyat Swiss (SVP) menjadi sosok terkenal. Bukan saja awalnya dia sangat menentang keras pembangunan masjid di negaranya, melainkan dirinya secara mengejutkan berpindah haluan menjadi seorang muslim.
Streich penganut kristen taat. Dia dibesarkan dengan ajaran Kristiani dan semasa kecil pernah bercita-cita menjadi pastor. Namun ketika remaja niatnya berubah. Ia mulai gemar berpolitik dan tanpa ragu terjun langsung menjadi anggota partai ternama di Swiss.
SVP bukan partai sembarangan. Di dalamnya terdiri dari cendekia, ilmuwan, pelajar, dan pegiat bukan dari kalangan muslim. Partai ini menjadi penentang nomor wahid penyebaran Islam di Swiss dan Streich paling vokal menyerukan penutupan masjid di seantero Negeri Cokelat ini.
Streich mempropagandakan anti-Islam ke seluruh negaranya. Ia menaburkan benih-benih kemarahan dan cemoohan bagi umat Islam di Swiss. Ia merasa mimbar dan kubah masjid tidak cocok dengan budaya negara itu. Ia juga menuding Islam agama teroris, pembuat onar, dan kekerasan.
Dalam usahanya menyingkirkan Islam dari Swiss, lelaki ini malah mempelajari Alquran dan Islam. Ia berharap dengan memahami ajaran Nabi Muhammad itu, dia mampu meruntuhkan iman kaum muslim. Yang terjadi, ia malah terpesona dengan agama rahmatan lil alamin ini.
Semakin jauh Streich belajar Islam, semakin tenggelam dia dalam keindahan agama samawi itu. "Banyak perbedaan saya dapatkan ketika mempelajari Islam. Agama ini memberikan saya jawaban logis atas pertanyaan hidup penting dan tidak saya temukan di agama saya," katanya.
Presiden Organisasi Konferensi Islam (OKI) Abdul Majid Aldai mengatakan orang Eropa sebenarnya memiliki keinginan besar mengetahui Islam dan hubungan antara Islam dengan terorisme, sama halnya dengan Streich.
Dulu, Streich sering meluangkan waktu membaca Alkitab dan pergi ke gereja, tapi sekarang ia membaca Alquran dan melakukan salat lima waktu setiap hari. Dia keluar dari SVP dan mengumumkan status muslimnya. Streich bilang telah menemukan kebenaran hidup dalam Islam yang tidak dapat ia temukan dalam agama sebelumnya.


3. Anne William Kennedy, cendikiawan Inggris jadi muslim di Palestina
Anne William Kennedy, perempuan dan cendekiawan asal Inggris, Sabtu lalu mantap memeluk Islam di Jalur Gaza, Palestina. Dia mengucapkan dua kalimat syahadat didampingi oleh Ketua Asosiasi Sarjana Palestina Dr. Salim Salama.
Setelah selesai bersyahadat dan diteruskan doa, Anne dan Salim melakukan konferensi pers di kantor Asosiasi Sarjana Palestina diliput oleh beberapa stasiun televisi. Dia lalu mengganti namanya menjadi Khadijah Hassan.
Anne yakin memeluk Islam setelah dia bertukar pikiran dan berdialog dengan Yusuf Hassan, seorang pemuda asal Khan Yunis, Gaza Selatan. Sebelum memutuskan menjadi muslimah, pemegang gelar sarjana di bidang ekonomi, politik, dan filsafat itu membaca buku-buku tentang Islam.
Anne mengaku gembira setelah resmi menjadi muslimah dan bangga bisa berada di Jalur Gaza. Menurut dia kota itu tepat buat ditinggali kaum muslim. Dia masih mengajar agama di sebuah sekolah di Inggris sampai sekarang.
Dalam konferensi pers, Salim Salama mengucapkan selamat kepada Anne yakin menjadi muslimah. Di akhir jumpa pers, dia memberikan sebuah mushaf Alquran dengan terjemahan Inggris kepada muslimah itu.


4. Arnoud van Doorn, anti-Islam kini jadi muslim
Arnoud van Doorn, salah satu anggota partai politik sayap kanan Belanda dari Partai Bagi Kebebasan, yang dikenal anti-Islam dikabarkan telah masuk Islam. Doorn menjadi muslim setelah dia melakukan penelitian mengenai agama ajaran Nabi Muhammad itu dan kehidupan kaum muslim.
"Saya mengerti kenapa semua orang skeptis, terutama mengenai hal-hal yang tak terduga bagi banyak orang. Ini merupakan keputusan besar yang saya tidak anggap remeh," kata Doorn.
Kabar keputusan Doorn masuk Islam pertama kali muncul saat dia menyebut kata 'awal baru' di akun Twitter dia bulan lalu. Dia kemudian menulis kalimat syahadat dalam bahasa Arab untuk memproklamirkan kepercayaan barunya itu. Doorn akhirnya mengumumkan bahwa dia sudah masuk Islam.
"Orang-orang terdekat saya tahu bahwahampir setahun belakangan inisaya sedang aktif membaca Alquran, hadist, sunnah, dan buku-buku lainnya tentang Islam," ucap Doorn. "Di samping itu, saya juga banyak melakukan berbagai percakapan dengan kaum muslim tentang agama."
Dia mengatakan dorongan daripartainya agar mempunyai sikap menentang Islam justru membuatnya penasaran dan ingin menggali tentang kebenaran agama Islam sendiri.
"Saya mendengar banyak pandangan buruk mengenai Islam. Namun, saya bukanlah tipe orang yang hanya mengikuti pendapat orang lain tanpa melakukan penelitian terlebih dahulu," ucap dia.
Doorn menjelaskan dia akhirnya mulai melakukan penelitian lebih dalam tentang Islam untuk menjawab rasa keingintahuannya itu "Kerabat saya, Abu Khoulani, dari dewan perwakilan Kota Hague telah membawa saya untuk berhubungan dengan anggota Masjid As-Sunnah, yang akhirnya membuat saya mengenal lebih jauh tentang Islam."
Doorn yang juga merupakan anggota parlemen Belanda dan dewan perwakilan Kota Hague, memang telah lama dikait-kaitkan dengan sikap anti-Islam lantaran tergabung dengan partai pimpinan Geert Wilders itu. Wilders memang dikenal sebagai politikus penentang Islam, kaum muslim, dan Alquran.
Bahkan, Wilders pernah menegaskan perjuangannya menghentikan penyebaran Islam di Eropa dan dunia merupakan tujuan utama dalam hidupnya. "Perjuangan anti-Islam adalah misi hidup saya," kata lelaki 49 tahun itu.
Doorn mengatakan dirinya sadar telah berbuat kesalahan dalam kehidupannya seperti halnya orang lain. Namun, dia menyebut, dari kesalahan-kesalahan itu, dirinya justru telah belajar banyak."Dengan menjadi Islam, saya merasa telah menemukan jalan saya. Saya menyadari ini adalah awal baru dan saya masih harus banyak belajar."


5. Taki Takazawa, mantan tukang tato Yakuza jadi imam masjid di Jepang
Nama aslinya Taki Takazawa. Rambutnya gondrong dan tubuhnya dipenuhi tato. Secara penampilan, dia nampak mirip dengan anggota kelompok mafia Jepang, biasa disebut Yakuza. Dia memang mantan tukang tato para anggota geng paling ditakuti di Negeri Matahari Terbit itu. Selama 20 tahun profesi itu digelutinya.
Tapi pandangan negatif pada penampilan fisiknya itu berubah saat dia mengumandangkan Azan. Takazawa kini menjadi Imam sebuah masjid di Ibu Kota Tokyo. Setelah mengucapkan dua kalimat Syahadat, Takazawa mencantumkan nama muslim Abdullah, berarti Hamba Allah SWT.
Perkenalannya dengan Islam secara tidak sengaja terjadi di Wilayah Shibuya. Takazawa melihat seseorang dengan kulit dan janggut putih. Orang itu juga mengenakan baju dan turban warna suci. "Orang itu memberikan sebuah kertas dan menyuruh saya membaca kalimat tertera bersama dia," ujarnya.
Kalimat itu ternyata Syahadat, pengakuan pada ke-esaan Allah SWT dan Muhammad SAW sebagai utusannya. Meski tak paham secara keseluruhan, Takazawa pernah mendengar sepintas Allah dan Muhammad. Seperti kebanyakan penduduk Jepang, Takazawa menganut aliran kepercayaan Shinto.
Pertemuan dengan orang serba putih itu membekas di ingatan Takazawa. Dua tahun setelah memeluk Islam, dia bertemu lagi dengan sosok inspiratifnya itu. "Ternyata dia pernah menjadi Imam di Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi. Saya bersyukur bisa bertemu dengannya," katanya.
Imam Masjid Nabawi itu meminta Takazawa untuk menjadi Imam di masjid di wilayah Shinjuku. Sebelumnya, dia melaksanakan ibadah haji dan menimba ilmu beberapa bulan di Kota Makkah. Nama Takazawa terkenal lantaran dia menjadi satu diantara lima imam Masjid besar di Jepang, dari 13 juta populasi manusia di Tokyo.

Read More >>
Setiap manusia selalu menginginkan menjadi yang terbaik. Ukuran terbaik menjadi relatif dan bertingkat di hadapan manusia. Yang terbaik di satu tempat, di komunitas tertentu, dan pada waktu tertentu, belum tentu terbaik di tempat, komunitas, dan waktu yang lain. Dengan demikian acuan dalam menjadi manusia yang terbaik adalah acuan yang telah dipesankan Allah swt melalui lisan Rasulullah saw :  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”  (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Menjadi manusia terbaik dengan demikian adalah proses kerja yang dalam proses kerja itu selalu ada arah dan muatan, serta pengerahan potensi yang dimiliki dalam rangka turut memberi manfaat kepada orang lain. Contoh kecil ketika kita bekerja sehari – hari.  Kita bekerja untuk mencari nafkah untuk diri dan keluarga,  dengan mengikuti tuntunan Allah swt.  Jadi manfaat dari kerja sehari – hari kita jelas bukan hanya untuk diri kita, tetapi lebih luas yaitu untuk keluarga. Keluarga kita kemudian kita arahkan untuk selalu berlaku baik dan memberi manfaat – manfaat semampunya kepada sesama (anggota keluarga yang lain, tetangga, teman, sahabat, murid – murid pengajian, dll).

Manfaat dari rutinitas kerja sehari – hari kita ternyata demikian banyak, subhanallah. Tentu di atas itu semua, proses kerja kita itu harus kita arahkan (baca : kita niatkan) untuk mencari ridho Allah swt. Artinya, kita bekerja karena Allah swt mensyariatkan kita bekerja sebagai salah satu bentuk upaya  mencari karunia-Nya, sehingga kita akan melakukan proses kerja dalam koridor atau “rambu – rambu” – Nya. Hasil kerja itupun kita gunakan dalam wilayah – wilayah yang tidak melanggar batasan larangan-Nya, seperti contoh menafkahi keluarga agar keluarga bisa lebih banyak lagi berbuat kebaikan.

Di luar rutinitas kerja itu, masih termat banyak waktu, peluang dan kesempatan untuk kita bisa menjadi sebaik – baik manusia.  Waktu, peluang dan kesempatan itu selalu hadir di sekeliling kita dan sebenarnya mudah kita ambil. Coba kita perhatikan kondisi dan aktivitas – aktivitas kecil berikut :

(1). Islam menganjurkan (kalau tidak boleh saya katakan “mengharuskan”) berprasangka baik atau berfikir positif dalam segala keadaan dan kepada siapa saja. Fikiran positif pada dasarnya adalah harapan – harapan baik yang tertanam dalam fikiran dan memancar. Dan doa pada dasarnya adalah juga harapan. Berfikir positif dengan demikian menjaga lancarnya aliran dan pancaran doa kepada Allah swt, dan sesuai janji-Nya setiap doa akan direspon dengan bentuk, cara, dan waktu yang diinginkan-Nya. Namun yang pasti tidak ada doa yang sia – sia. Jika kita berfikir positif terhadap orang lain maka insya Allah kondisi positif itu akan Allah swt hadirkan untuk orang lain tersebut, dan ini artinya kita telah berkontribusi kebaikan kepada orang lain tanpa orang lain itu mengetahuinya, dan memang tidak perlu ia mengetahuinya, karena sudah teramat sangat cukup Allah swt saja yang mengetahuinya.

(2). Senang dengan keberhasilan orang lain.
Istilahnya adalah SMS, yaitu Senang Melihat orang lain Senang. Senang dengan keadaan senang orang lain, seperti kenaikan pangkat, mendapat banyak harta, memperoleh anugrah – anugrah, dll. Dengan turut bergembira atau senang atas kegembiraan atau kesenangan orang lain berarti kita sedang memancarkan perasaan atau harapan positi kepada orang lain tersebut, yang insya Allah akan menguatkan respon dari Allah swt untuk semakin menguatkan kondisi gembira atau senang orang lain tersebut.

(3). Susah dengan kesusahan orang lain.
Masih dengan istilah SMS, yaitu Susah Melihat orang lain Susah. Turut prihatin dengan derita yang menimpa orang lain, sebagaimana prihatinnya ketika derita itu menimpa diri sendiri. Perasaan susah, perasaan prihatin sejatinya merupakan ungkapan harapan – harapan kepada Allah swt agar derita segera berlalu dari orang lain tersebut. Dan ketika derita telah berlalu berganti dengan kondisi gembira dan bahagia, maka sejatinya kita telah berkontribusi menguatkan datangnya kebaikan kepada orang lain tersebut.

(4). Mendoakan untuk kebaikan orang lain.
“Doa adalah senjata orang beriman”. Seberapa sering kita mendoakan kebaikan orang lain ? Atau seberapa sering kita menggunakan “senjata” kita untuk mendatangkan kebaikan kepada orang lain ? Itu adalah pertanyaan -  pertanyaan untuk mengevaluasi seberapa besar tingkat kepedulian kita kepada orang lain. Dengan mendoakan untuk kebaikan orang lain, sebenarnya kita telah berjuang dengan “senjata” kita agar orang lain mendapatkan kebaikan – kebaikannya. Coba kita bayangkan jika yang kita doakan itu adalah doa kebaikan untuk semua umat Islam ?

(5). Membantu sesuai kemampuan
Membantu meringankan kesulitan secara materi jika memang mampu. Dengan menyalurkan manfaat materi yang Allah swt amanahkan kepada kita maka kita sedang memproduktifkan materi kita, sedang menganak pinakkan materi kita. Secara empiris, tak pernah ada orang yang menjadi miskin dan kekurangan materi lantaran rajin menyalurkan manfaat materinya kepada orang lain atau bershodaqoh. Belum lagi anjuran Islam untuk senantiasa bershodaqoh dalam keadaan lapang dan sempit dan menjadikannya sebagai solusi dari berbagai kesulitan dan kesembuhan penyakit.

Dengan demikian, di manapun dan kapanpun kita berada, kita bisa menjadi manusia yang terbaik.  

Read More >>
“Nilai diri” kita sesungguhnya terletak pada sebanyak apa kontribusi (kebaikan) kita bagi orang lain.

“Nilai waktu” kita sesungguhnya terletak pada saat – saat di mana kita berkarya dan memberikan kebaikan kepada orang lain.

“Nilai hidup” kita di hadapan Allah ditentukan pada apa yang dipersaksikan para saksi sejarah di hadapan Allah, atas kebaikan dan rahmat yang telah kita berikan kepada mereka.

Dalam hidup ini sesuatu kita anggap berharga ketika sesuatu itu memiliki nilai. Rumah, kendaraan, perhiasan, kedudukan, anak, istri, kerabat, status sosial, dan lain sebagainya adalah memiliki nilainya masing – masing yang tidak bisa dinilai dengan tolok ukur yang sama. Namun pada intinya kesemuanya tadi memiliki nilai sehingga kita menganggabnya berharga dalam hidup kita, dan karenanya kita pelihara dan pertahankan.

Tiga ungkapan di atas, tentang nilai kita, yaitu “nilai diri”, “nilai waktu”, dan “nilai hidup”, pada intinya memesankan tentang seberapa besar kebaikan kita memberi manfaat kepada sesama, terutama sesama manusia. Semakin banyak manusia yang merasakan kebaikan kita berarti semakin bernilai kita di hadapan manusia, dan insya Allah di hadapan Allah SWT.

Rasulullah saw telah berpesan tentang sebaik – baik manusia : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Di hadapan Allah swt nilai kita tentu saja akan memberi arti yang sangat penting. Bukankah hakikat kehidupan adalah kehidupan setelah alam dunia ini ? Ini artinya bahwa dunia adalah kesempatan sekaligus lahan menghimpun nilai diri, nilai waktu, dan nilai hidup dengan melakukan amal perbuatan yang bukan saja memberi manfaat pada diri sendiri, namun juga orang lain, sehingga kita sebagai hamba Allah swt memiliki nilai yang tinggi di hadapan-Nya. Kemuliaan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia dan terlebih di akhirat, ditentukan oleh nilai kita tersebut.

Para nabi adalah orang – orang yang paling tinggi nilainya di hadapan Allah swt. Merekalah yang paling banyak mendedikasikan waktu dan dirinya untuk kebaikan dan keselamatan sesama manusia. Nabi Muhammad saw contoh nyatanya. Hingga di penghujung hayat Beliau, ingatan tentang keselamatan umat Beliau tetap lekat. Maka selayaknya Allah swt kemudian memuliakan Beliau, di antaranya sebagai manusia pertama yang akan memasuki surge Allahswt sebelum yang lainnya.

Berbicara tentang surga, sejujurnya seluruh manusia tanpa kecuali pasti menginginkannya. Keinginan itu tertanam kuat, baik disadari maupun tidak disadari. Keinginan itu include bersama dengan kelahiran manusia di dunia. Setiap manusia menginginkan kesenangan dan tidak menginginkan kesusahan serta kesulitan, dan surga adalah tempat kehidupan yang penuh kesenangan dengan tidak menyisakan ruang dan waktu untuk kesusahan atau kesulitan.

Namun apakah dunia juga demikian ? Tidak. Dunia adalah medan ujian, artinya medan ujian bagi manusia untuk menggapai kesenangan kekal di surga, kampung halamannya. Kesenangan dan kesulitan kehidupan di dunia Allah swt pergilirkan, agar manusia merasakan ujian itu. Dengan demikian manusia diharapkan sampai pada titik kesadaran bahwa kesenangan dan kesusahan hidup di dunia ada batasnya dan hanya sebentar, sehingga ia tidak perlu berlomba – lomba untuk meraih kesenangan dunia sekaligus tidak perlu putus asa dengan kesusahan yang menimpa, karena toh keduanya hanya ujian yang bersifat sementara. Di samping itu kadar kesenangan dan kesusahan masing – masing manusia telah terukur di hadapan Allah SWT dan tidak akan tertukar. Semua adalah bagian dari ketentuan Allah swt tentang rizqi.

Ketika kita sedang tertimpa kesusahan, maka bergembiralah, karena akan Allah swt pergilirkan kesenangan untuk mendatangi kita. Sebaliknya, ketika dalam suasana senang, sebaiknya waspadalah, mungkin giliran kesusahan datang menghampiri. Dunia tempat di mana tidaklah mungkin manusia bergembira atau bersedih tanpa batas. Bergembiralah dan bersedihlah dalam batas yang wajar, karena itulah fitrah manusia.

Kesenangan menuntut harga yang harus dibayar, baik kesenangan sesaat di dunia maupun kesenangan kekal di surga. Kemampuan manusia serba terbatas. Oleh karena itulah diperlukan kejelasan dan kekokohan orientasi manusia dalam memilih kesenangan hidup. Jika kemampuan manusia yang terbatas hanya semata terfokus untuk kesenangan dunia, maka maksimal hanya sebatas kesenangan dunia itulah yang akan teraih. Sekali lagi maksimal, maksudnya realisasi kesenangan yang akan teraih sangat mungkin berada di bawah garis maksimal. Ya karena dunia adalah medan ujian sehingga segala sesuatunya Allah swt cipakan dengan banyak kemungkinan. Sehingga dengan kemampuan manusia yang sangat berharga namun terbatas itu hanya sebanding dengan kesenangan duniawi itu.

Menilik ke belakang pengalaman hidup kita, kurang lebihnya kita akan dapat menyimpulkan bahwa kesenangan dunia sejatinya memang kecil dan sesaat. Salah satu contoh faktanya, bukankah kesenangan masa – masa kecil kita seperti baru berlalu kemarin, padahal sesungguhnya sudah berlalu puluhan tahun. Kemampuan kita yang terbatas dan sangat berharga hanya teralokasikan untuk kesenangan dunia yang kecil dan sesaat. Sesuatu yang jauh dari seimbang. Oleh karena itu semestinyalah orientasi hidup ini diarahkan untuk kesenangan akhirat, dengan tolok ukur utamanya adalah keridhaan Allah swt. Segala sesuatu yang menjadikan Allah swt ridho akan mendatangkan ganjaran kebahagiaan dunia dan kebahagiaan kekal akhirat.

Allah swt Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya. Hal itu diwujudkan dengan memberikan kesempatan dan ganjaran beramal jauh lebih banyak dan bahkan berlipat – lipat dari pada kebaikan amal yang dapat dilakukan manusia dengan kemampuannya dalam waktu yang terbatas. Allah swt memberikan ganjaran amal yang jauh melampaui kemampuan dan durasi waktu beramal tersebut. Dengan kemampuan dan waktu yang terbatas bisa membuahkan ganjaran yang banyak dan berlipat. Dan amal – amal yang mendatangkan pelipatan ganjaran adalah amal – amal yang cakupan dan manfaatnya bukan hanya untuk individual, melainkan untuk kebersamaan dan sesama manusia.

Sudah selayaknya kepedulian kita terhadap kebaikan sesama menjadi agenda kehidupan kita, di sampaing agenda kepentingan individu. “Hidup bukan hanya untuk sepotong roti”, begitu ahli hikmah mengungkapkan.
Read More >>
Assalamu'alaikum wr. wb...
Salam sejahtera untuk Sobatku semua..

Jika bicara tentang "belajar", maka sesungguhnya hidup ini adalah proses belajar yang tiada henti. Kita belajar dan terus belajar, agar hari ini menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, dan hari esok lebih baik dari hari ini.

Semua yang terbentang, melata, dan bergerak di alam ini pun bisa kita jadikan sebagai guru. Seorang pembelajar sejati adalah seorang yang paling mengerti dan berani menghadapi hidup. Ia tidak akan pernah sungkan untuk belajar kepada siapa saja dan apa saja. Jangankan kepada manusia, seperti anak kecil sekalipun, kepada binatang pun pembelajar sejati bisa belajar banyak. Hatinya bersih dari virus gengsi. Dalam Al-Qur'an, Allah swt memberikan pembelajaran kepada seluruh manusia melalui beberapa binatang, seperti lebah, laba - laba, dan lain - lain.

Kali ini pun kita mencoba belajar dengan seekor unta. Kita coba mengambil "beliau", sang unta sebagai salah satu guru kita. Jadilah pembelajar sejati, orang dengan banyak guru.

Lalu ada apa dengan sang unta ... ?

Setiap pagi, dia akan berlutut di  depan tuannya, untuk mengambil beban yang akan dibawanya spanjang hari. Dan pada saat malam tiba, ia akan kembali berlutut agar tuannya bisa mengambil beban dari punggungnya...
Itulah seekor unta kepada tuannya.
Begitulah seharusnya kita ..

Berlutut memulai hari sebelum mengangkut beban yang harus kita tanggung sepanjang hari ini.

Dan saat malam tiba, itulah saat kita kembali berlutut untuk menyerahkan semua beban dalam hidup kita.

Ɖάn peracayalah saat kita berlutut, menyerah, maka pasti ada  tangan Tuhan yang menjaga dan melindungi kita.
Setetes air matamu....... DIA perhitungkan

Sepatah katamu....... DIA dengarkan

Sesak hatimu yang hancur....... DIA-pun merasakan

Sekecil apapun pergumulanmu....... DIA peduli

DIA menjagamu seperti bola mata-NYA

Apapun yang kamu rasa, yakinlah ALLAH selalu setia dan peduli.......

Maka itu, janganlah kita menyerah dan putus asa.......

Serahkanlah semuanya....... masalah , beban, dan  kebutuhan kita ke dalam tangan Sang Pencipta alam semesta ini.

Dan pada saatnya Allah akan kirim hadiah terindah dalam hidup kita.


Be Happy forever

Wassalamu'alaikum wr. wb.



Read More >>