Setiap manusia selalu menginginkan menjadi yang terbaik. Ukuran terbaik menjadi relatif dan bertingkat di hadapan manusia. Yang terbaik di satu tempat, di komunitas tertentu, dan pada waktu tertentu, belum tentu terbaik di tempat, komunitas, dan waktu yang lain. Dengan demikian acuan dalam menjadi manusia yang terbaik adalah acuan yang telah dipesankan Allah swt melalui lisan Rasulullah saw :  Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”  (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Menjadi manusia terbaik dengan demikian adalah proses kerja yang dalam proses kerja itu selalu ada arah dan muatan, serta pengerahan potensi yang dimiliki dalam rangka turut memberi manfaat kepada orang lain. Contoh kecil ketika kita bekerja sehari – hari.  Kita bekerja untuk mencari nafkah untuk diri dan keluarga,  dengan mengikuti tuntunan Allah swt.  Jadi manfaat dari kerja sehari – hari kita jelas bukan hanya untuk diri kita, tetapi lebih luas yaitu untuk keluarga. Keluarga kita kemudian kita arahkan untuk selalu berlaku baik dan memberi manfaat – manfaat semampunya kepada sesama (anggota keluarga yang lain, tetangga, teman, sahabat, murid – murid pengajian, dll).

Manfaat dari rutinitas kerja sehari – hari kita ternyata demikian banyak, subhanallah. Tentu di atas itu semua, proses kerja kita itu harus kita arahkan (baca : kita niatkan) untuk mencari ridho Allah swt. Artinya, kita bekerja karena Allah swt mensyariatkan kita bekerja sebagai salah satu bentuk upaya  mencari karunia-Nya, sehingga kita akan melakukan proses kerja dalam koridor atau “rambu – rambu” – Nya. Hasil kerja itupun kita gunakan dalam wilayah – wilayah yang tidak melanggar batasan larangan-Nya, seperti contoh menafkahi keluarga agar keluarga bisa lebih banyak lagi berbuat kebaikan.

Di luar rutinitas kerja itu, masih termat banyak waktu, peluang dan kesempatan untuk kita bisa menjadi sebaik – baik manusia.  Waktu, peluang dan kesempatan itu selalu hadir di sekeliling kita dan sebenarnya mudah kita ambil. Coba kita perhatikan kondisi dan aktivitas – aktivitas kecil berikut :

(1). Islam menganjurkan (kalau tidak boleh saya katakan “mengharuskan”) berprasangka baik atau berfikir positif dalam segala keadaan dan kepada siapa saja. Fikiran positif pada dasarnya adalah harapan – harapan baik yang tertanam dalam fikiran dan memancar. Dan doa pada dasarnya adalah juga harapan. Berfikir positif dengan demikian menjaga lancarnya aliran dan pancaran doa kepada Allah swt, dan sesuai janji-Nya setiap doa akan direspon dengan bentuk, cara, dan waktu yang diinginkan-Nya. Namun yang pasti tidak ada doa yang sia – sia. Jika kita berfikir positif terhadap orang lain maka insya Allah kondisi positif itu akan Allah swt hadirkan untuk orang lain tersebut, dan ini artinya kita telah berkontribusi kebaikan kepada orang lain tanpa orang lain itu mengetahuinya, dan memang tidak perlu ia mengetahuinya, karena sudah teramat sangat cukup Allah swt saja yang mengetahuinya.

(2). Senang dengan keberhasilan orang lain.
Istilahnya adalah SMS, yaitu Senang Melihat orang lain Senang. Senang dengan keadaan senang orang lain, seperti kenaikan pangkat, mendapat banyak harta, memperoleh anugrah – anugrah, dll. Dengan turut bergembira atau senang atas kegembiraan atau kesenangan orang lain berarti kita sedang memancarkan perasaan atau harapan positi kepada orang lain tersebut, yang insya Allah akan menguatkan respon dari Allah swt untuk semakin menguatkan kondisi gembira atau senang orang lain tersebut.

(3). Susah dengan kesusahan orang lain.
Masih dengan istilah SMS, yaitu Susah Melihat orang lain Susah. Turut prihatin dengan derita yang menimpa orang lain, sebagaimana prihatinnya ketika derita itu menimpa diri sendiri. Perasaan susah, perasaan prihatin sejatinya merupakan ungkapan harapan – harapan kepada Allah swt agar derita segera berlalu dari orang lain tersebut. Dan ketika derita telah berlalu berganti dengan kondisi gembira dan bahagia, maka sejatinya kita telah berkontribusi menguatkan datangnya kebaikan kepada orang lain tersebut.

(4). Mendoakan untuk kebaikan orang lain.
“Doa adalah senjata orang beriman”. Seberapa sering kita mendoakan kebaikan orang lain ? Atau seberapa sering kita menggunakan “senjata” kita untuk mendatangkan kebaikan kepada orang lain ? Itu adalah pertanyaan -  pertanyaan untuk mengevaluasi seberapa besar tingkat kepedulian kita kepada orang lain. Dengan mendoakan untuk kebaikan orang lain, sebenarnya kita telah berjuang dengan “senjata” kita agar orang lain mendapatkan kebaikan – kebaikannya. Coba kita bayangkan jika yang kita doakan itu adalah doa kebaikan untuk semua umat Islam ?

(5). Membantu sesuai kemampuan
Membantu meringankan kesulitan secara materi jika memang mampu. Dengan menyalurkan manfaat materi yang Allah swt amanahkan kepada kita maka kita sedang memproduktifkan materi kita, sedang menganak pinakkan materi kita. Secara empiris, tak pernah ada orang yang menjadi miskin dan kekurangan materi lantaran rajin menyalurkan manfaat materinya kepada orang lain atau bershodaqoh. Belum lagi anjuran Islam untuk senantiasa bershodaqoh dalam keadaan lapang dan sempit dan menjadikannya sebagai solusi dari berbagai kesulitan dan kesembuhan penyakit.

Dengan demikian, di manapun dan kapanpun kita berada, kita bisa menjadi manusia yang terbaik.  

Related Post :