“Nilai diri” kita sesungguhnya terletak pada sebanyak apa kontribusi (kebaikan) kita bagi orang lain.

“Nilai waktu” kita sesungguhnya terletak pada saat – saat di mana kita berkarya dan memberikan kebaikan kepada orang lain.

“Nilai hidup” kita di hadapan Allah ditentukan pada apa yang dipersaksikan para saksi sejarah di hadapan Allah, atas kebaikan dan rahmat yang telah kita berikan kepada mereka.

Dalam hidup ini sesuatu kita anggap berharga ketika sesuatu itu memiliki nilai. Rumah, kendaraan, perhiasan, kedudukan, anak, istri, kerabat, status sosial, dan lain sebagainya adalah memiliki nilainya masing – masing yang tidak bisa dinilai dengan tolok ukur yang sama. Namun pada intinya kesemuanya tadi memiliki nilai sehingga kita menganggabnya berharga dalam hidup kita, dan karenanya kita pelihara dan pertahankan.

Tiga ungkapan di atas, tentang nilai kita, yaitu “nilai diri”, “nilai waktu”, dan “nilai hidup”, pada intinya memesankan tentang seberapa besar kebaikan kita memberi manfaat kepada sesama, terutama sesama manusia. Semakin banyak manusia yang merasakan kebaikan kita berarti semakin bernilai kita di hadapan manusia, dan insya Allah di hadapan Allah SWT.

Rasulullah saw telah berpesan tentang sebaik – baik manusia : Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

Di hadapan Allah swt nilai kita tentu saja akan memberi arti yang sangat penting. Bukankah hakikat kehidupan adalah kehidupan setelah alam dunia ini ? Ini artinya bahwa dunia adalah kesempatan sekaligus lahan menghimpun nilai diri, nilai waktu, dan nilai hidup dengan melakukan amal perbuatan yang bukan saja memberi manfaat pada diri sendiri, namun juga orang lain, sehingga kita sebagai hamba Allah swt memiliki nilai yang tinggi di hadapan-Nya. Kemuliaan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia dan terlebih di akhirat, ditentukan oleh nilai kita tersebut.

Para nabi adalah orang – orang yang paling tinggi nilainya di hadapan Allah swt. Merekalah yang paling banyak mendedikasikan waktu dan dirinya untuk kebaikan dan keselamatan sesama manusia. Nabi Muhammad saw contoh nyatanya. Hingga di penghujung hayat Beliau, ingatan tentang keselamatan umat Beliau tetap lekat. Maka selayaknya Allah swt kemudian memuliakan Beliau, di antaranya sebagai manusia pertama yang akan memasuki surge Allahswt sebelum yang lainnya.

Berbicara tentang surga, sejujurnya seluruh manusia tanpa kecuali pasti menginginkannya. Keinginan itu tertanam kuat, baik disadari maupun tidak disadari. Keinginan itu include bersama dengan kelahiran manusia di dunia. Setiap manusia menginginkan kesenangan dan tidak menginginkan kesusahan serta kesulitan, dan surga adalah tempat kehidupan yang penuh kesenangan dengan tidak menyisakan ruang dan waktu untuk kesusahan atau kesulitan.

Namun apakah dunia juga demikian ? Tidak. Dunia adalah medan ujian, artinya medan ujian bagi manusia untuk menggapai kesenangan kekal di surga, kampung halamannya. Kesenangan dan kesulitan kehidupan di dunia Allah swt pergilirkan, agar manusia merasakan ujian itu. Dengan demikian manusia diharapkan sampai pada titik kesadaran bahwa kesenangan dan kesusahan hidup di dunia ada batasnya dan hanya sebentar, sehingga ia tidak perlu berlomba – lomba untuk meraih kesenangan dunia sekaligus tidak perlu putus asa dengan kesusahan yang menimpa, karena toh keduanya hanya ujian yang bersifat sementara. Di samping itu kadar kesenangan dan kesusahan masing – masing manusia telah terukur di hadapan Allah SWT dan tidak akan tertukar. Semua adalah bagian dari ketentuan Allah swt tentang rizqi.

Ketika kita sedang tertimpa kesusahan, maka bergembiralah, karena akan Allah swt pergilirkan kesenangan untuk mendatangi kita. Sebaliknya, ketika dalam suasana senang, sebaiknya waspadalah, mungkin giliran kesusahan datang menghampiri. Dunia tempat di mana tidaklah mungkin manusia bergembira atau bersedih tanpa batas. Bergembiralah dan bersedihlah dalam batas yang wajar, karena itulah fitrah manusia.

Kesenangan menuntut harga yang harus dibayar, baik kesenangan sesaat di dunia maupun kesenangan kekal di surga. Kemampuan manusia serba terbatas. Oleh karena itulah diperlukan kejelasan dan kekokohan orientasi manusia dalam memilih kesenangan hidup. Jika kemampuan manusia yang terbatas hanya semata terfokus untuk kesenangan dunia, maka maksimal hanya sebatas kesenangan dunia itulah yang akan teraih. Sekali lagi maksimal, maksudnya realisasi kesenangan yang akan teraih sangat mungkin berada di bawah garis maksimal. Ya karena dunia adalah medan ujian sehingga segala sesuatunya Allah swt cipakan dengan banyak kemungkinan. Sehingga dengan kemampuan manusia yang sangat berharga namun terbatas itu hanya sebanding dengan kesenangan duniawi itu.

Menilik ke belakang pengalaman hidup kita, kurang lebihnya kita akan dapat menyimpulkan bahwa kesenangan dunia sejatinya memang kecil dan sesaat. Salah satu contoh faktanya, bukankah kesenangan masa – masa kecil kita seperti baru berlalu kemarin, padahal sesungguhnya sudah berlalu puluhan tahun. Kemampuan kita yang terbatas dan sangat berharga hanya teralokasikan untuk kesenangan dunia yang kecil dan sesaat. Sesuatu yang jauh dari seimbang. Oleh karena itu semestinyalah orientasi hidup ini diarahkan untuk kesenangan akhirat, dengan tolok ukur utamanya adalah keridhaan Allah swt. Segala sesuatu yang menjadikan Allah swt ridho akan mendatangkan ganjaran kebahagiaan dunia dan kebahagiaan kekal akhirat.

Allah swt Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya. Hal itu diwujudkan dengan memberikan kesempatan dan ganjaran beramal jauh lebih banyak dan bahkan berlipat – lipat dari pada kebaikan amal yang dapat dilakukan manusia dengan kemampuannya dalam waktu yang terbatas. Allah swt memberikan ganjaran amal yang jauh melampaui kemampuan dan durasi waktu beramal tersebut. Dengan kemampuan dan waktu yang terbatas bisa membuahkan ganjaran yang banyak dan berlipat. Dan amal – amal yang mendatangkan pelipatan ganjaran adalah amal – amal yang cakupan dan manfaatnya bukan hanya untuk individual, melainkan untuk kebersamaan dan sesama manusia.

Sudah selayaknya kepedulian kita terhadap kebaikan sesama menjadi agenda kehidupan kita, di sampaing agenda kepentingan individu. “Hidup bukan hanya untuk sepotong roti”, begitu ahli hikmah mengungkapkan.

Related Post :