Assalamu’alaikum wr. wb.
Semoga
kita semua selalu berada dalam naungan rahmat Allah SWT. Semoga kita
selalu diberikan kesehatan, kekuatan, dan petunjuk oleh Allah SWT untuk
memaksimalkan usaha. Dan semoga usaha – usaha yang kita rintis dan
bangun itu kelak akan mewujudkan cita – cita mulia kita di hari esok,
apapun cita – cita itu. “Kenyataan hari ini adalah impian hari kemarin, impian hari ini adalah kenyataan hari esok”.
Sebagai manusia kita disyariatkan untuk berusaha sebagai cara
sekaligus sarana menjemput karunia Allah SWT. Usaha itu sendiri sangat
banyak macamnya, yang intinya sepanjang usaha itu dibenarkan oleh Allah
SWT sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad
SAW maka akan mendatangkan karunia Allah SWT yang melimpah dan tak
bertepi.
Dalam berusaha hendaknya kita lakukan secara maksimal. Kita dibekali
oleh Allah SWT dengan kekuatan dan beragam potensi yang memungkinkan
kita melakukan usaha secara maksimal demi mewujudkan cita – cita atau
impian kita. Allah SWT telah menetapkan potensi dan kekuatan kepada
manusia dalam takaran yang pas. “Laa Yukallifullahu Nafsan Illa Wus’aha, Laha Ma Kasabat Wa’alaiha Maktasabat “
(Allah tidak memaksakan (membebankan) pada seseorang kecuali seseuai
dengan kemampuannya, baginya keuntungan dari usahanya, sebagaimana di
atas tanggungannya resiko apa yang telah dikerjakannya).”
Jadi berusahalah secara maksimal pada titik di mana kita sudah merasa
tidak mampu lagi. Jangan lupa berdoa secara baik dengan menjaga adab –
adabnya dan dibarengi dengan tawakal. Usaha maksimal, doa, dan tawakal
adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Ketiganya merupakan syarat untuk menggapai karunia dan pahala dari Allah
SWT. Jika salah satu di antara ketiganya tidak terpenuhi maka hasil
yang baik di mata Allah SWT tidak akan kita dapatkan, walaupun hasil
yang baik menurut ukuran manusia kita dapatkan.
Seseorang
yang berusaha dengan maksimal mungkin, bukannya pasti, akan meraih
hasil yang melimpah seperti yang didambakannya. Namun tanpa doa dan
tawakal kepada Allah SWT hasil tersebut hanyalah bernilai sebesar nilai
materinya saja tanpa nilai keberkahan di sisi Allah SWT sebagai nilai
tambah. Di sisi Allah SWT hasil tadi bisa jadi tak berarti, karena Allah
Maha Kaya dan sama sekali tidak membutuhkan makhluk-Nya. Apalagi jika
usaha maksimal tersebut dicampuri dengan unsur dan perbuatan yang
melanggar larangan Allah SWT, maka nilai negatif akan hinggap pada hasil
yang melimpah itu sebagai “virus” yang bisa membuat hasil yang melimpah
seolah tiada arti. Sudah teramat sering bukan, kita dengan ungkapan, “uang seperti air”.
Uang yang awalnya melimpah di tangan namun sangat mudahnya habis dalam
waktu yang tidak terlalu lama. Sudah terbukti para pengejar uang dan
kekayaan akan selalu kekurangan uang dan kurang kaya hingga masuk ke
liang lahat.
Berdoa saja tanpa usaha juga tidak akan menggerakkan karunia Allah
SWT datang menghampiri. Demikian juga halnya dengan tawakal saja tanpa
dua unsur penjemput karunia yang lainnya. Sehingga kita sebagai hamba
Allah SWT harus memenuhi unsur Penjemput Karunia itu.
KARUNIA = USAHA MAKSIMAL + DOA + TAWAKAL
Tentang Tawakal
Tawakal merupakan elemen yang harus hadir untuk memenuhi “persamaan KARUNIA” di atas. Tawakal adalah menyerahkan seluruh hasil akhir dari usaha maksimal yang telah kita lakukan kepada Allah SWT. Ya, sekali lagi, SELURUH. Bagaimana, kapan, seperti apa, sebesar apa, melalui siapa, hasil itu datang kepada kita, harus kita serahkan semuanya kepada kehendak Allah SWT, dan karena Allah SWT sematalah yang berhak menentukan hasil akhir. Kita jangan sampai mengunci hasil akhir, yaitu memastikan hasil akhir dengan upaya – upaya yang telah kita berikan. Janganlah memastikan bahwa ketika kita telah melakukan dua usaha ditambah dua doa hasilnya adalah 4 hasil akhir, atau “2 + 2 = 4″, hal itu sangat matematis linier, padahal hidup tidaklah linier, seperti dikatakan hidup tidak pernah “flat”.
Dalam konteks menjemput karunia Allah SWT, “2 + 2 TIDAK HARUS 4″, bisa
saja lebih dan juga kurang. Memastikan hasil akhir sama halnya
mengambil wewenang Allah SWT dalam menentukan hasil akhir. Serahkan
semua hasil akhir kepada Allah SWT tanpa tambahan ragu sedikitpun jua,
itulah arti menyempurnakan tawakal. Jangan sampai kita terjebak dalam
kerja keras melampaui batas seolah tanpa kerja keras yang seperti itu
hasilnya tidak akan seperti yang kita harapkan. Janganlah perprasangka
bahwa tanpa kehadiran kita pekerjaan – pekerjaan tidak akan menjadi
beres, sehingga potensi dan tenaga kita yang semestinya bisa digunakan
untuk menangani pekerjaan yang lebih strategis harus terkuras untuk
sebuah pekerjaan yang bernilai kurang strategis yang sebenarnya bisa
didelegasikan kepada rekan kerja yang lain.
Jemput karunia Allah SWT dengan usaha maksimal dan bukan usaha keras
melampaui batas, doa dan dekatkan diri selalu kepada Allah SWT, lalu
hadirkan kesempurnaan tawakal untuk menanti hasil akhir yang Allah SWT takdirkan. “Dan barangsiapa yang bertawakkal (menyandarkan dirinya) kepada Allah niscaya Allah akan cukupkan keperluannya.” (At-Thalaq: 3)
Usaha maksimal adalah usaha – usaha dengan mengerahkan segenap
potensi dan kekuatan dalam batas – batas tidak mengganggu dan merusak
fisik, akal, keyakinan, keluarga, dan juga harta. Lima hal tadi, yaitu
fisik, akal, keyakinan, keluarga (keturunan), dan harta dilindungi oleh
Syariat Islam. Syariat Islam diturunkan Allah SWT untuk menjaga lima hal
di atas. Jadi kalau ada sebuah usaha yang justru mengganggu,
menurunkan, dan merusaknya, maka usaha itu menjadi tidak baik dan
menentang maksud Allah SWT menerapkan Syariat-Nya. Jangan sampai usaha
itu merusak garis wewenang Allah SWT dan mengambil bagian dalam
menentukan hasil akhir, karena sekali lagi hasil akhir adalah hak mutlak
Allah SWT semata.
Wallahu ‘alam bishshawaab, Wassalamu’alaikum wr. wb.



