Assalamu’alaikum wr. wb.

Semangat pagi semuanya, semoga kebahagiaan selalu meliputi hati kita dan kesehatan serta kebugaran selalu Allah SWT sertakan atas diri kita. Dalam kebahagiaan dan kesehatan, kita dapat menikmati hidup ini seutuhnya, langit yang cerah dan mentari yang bersinar seakan mengiringi langkah – langkah menuju sukses di pagi hari ini. Maha Besar dan Maha Pengasih Allah SWT…

Pada posting saya terdahulu telah saya sampaikan bahwa sebagai hamba Allah SWT kita dituntut untuk menyempurnakan tawakal setelah usaha maksimal dan doa kita persembahkan. Maka pada kesempatan ini saya hadirkan topik “Dahulukan Allah SWT Sebelum Usaha”. Mendahulukan Allah SWT merupakan satu rangkaian dengan menyempurnakan tawakal.

Kesempurnaan tawakal menjadi sangat penting karena hasil akhir mutlak 100% tergantung kepada keputusan Allah SWT. Allah SWT tidak akan mengecewakan kita sedikitpun dengan hasil akhir yang kita raih, karena Allah SWT – lah Yang Maha Tahu tentang diri kita sebagai hamba-Nya dan karenanya Maha Tahu pula tentang yang terbaik untuk kita.

Sering kita alami kejadian – kejadian dalam hidup ini yang semula tidak kita rencanakan, baik itu kejadian yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan. Kita tidak pernah merencanakan kehilangan uang, namun hal itu kita yakini bisa terjadi pada diri kita, entah kapan dan di mana waktunya. Kita hanya bisa mengantisipasi agar tidak kehilangan uang dengan menyimpan uang di tempat yang aman dan mudah kita kontrol. Kita hanya bisa berusaha maksimal supaya uang tidak hilang, akan tetapi kita tidak kuasa sedikitpun menjamin bahwa uang tidak akan hilang.

Rencana yang telah tersusun dengan rapi tidak selalu (kalau tidak bisa dikatakan “selalu tidak”) berujung pada kenyataan hasil yang tepat sama dengan rencana hasil. Kendala – kendala yang semula tidak masuk dalam variabel penghambat ternyata muncul di tengah – tengah berjalannya rencana. Begitu banyak kejadian tiba – tiba datang silih berganti di luar kemampuan manusia merencanakan. Itu semua menunjukkan bagaimana kekuatan Sang Maha Perencana bekerja.

Ya, betapa lemah kita manusia. Kita hanya bisa berusaha dengan kekuatan, ruang, dan waktu yang Allah SWT perkenankan. Yang terpenting lagi, kita sama sekali, 100%, tidak memiliki kemampuan memastikan hasil akhir akan seperti akan seperti apa, akan bagaimana, akan di mana, sejumlah atau sebesar apa, dan kapan.

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas ra ia mengatakan, “Pada suatu hari aku pernah dibonceng dibelakang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau bersabda,
“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ’Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya suatu kaum berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk memberi suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadamu kecuali dengan sesuatu yg telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah
diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’” (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata,” Hadist ini hasan shahih).
Alam semesta tunduk kepada Alah SWT


Hadits di atas menjelaskan dengan terang bagaimana Maha Kuasanya Allah SWT dalam menentukan sesuatu, baik manfaat maupun mudharat. Sekalipun variabel pendukung keberhasilan telah lengkap dan powerfull didukung oleh pelaksana yang terampil dan berpengalaman, ditambah dengan kalkulasi perkiraan  momentum keberhasilan yang memadahi,  namun jika Allah SWT belum menghendaki keberhasilan, maka keberhasilan itu tidak akan hadir.  Allah SWT Maha Menentukan.

Kita butuh manfaat, terhindar dari mudlarat,  dan butuh keberhasilan, karena itulah maka menjadi kebutuhan untuk selalu mendahulukan Allah SWT. Sebelum memulai segala sesuatunya, dekati Allah SWT, orang jawa bilang sowan (menghadap) terlebih dahulu kepada Allah SWT untuk mendapatkan restu, petunjuk, kekuatan, jaminan, dan perlinduangan-Nya.

Jagalah Allah SWT agar senantiasa Dia ada bersama kita dalam semua keadaan. Allah SWT Maha Merencanakan dan Maha Menentukan. Dahulukan dan Dekatkan diri kita kepada-Nya sebelum rencana dan usaha maksimal kita.  Dengan melakukan hal demikian  itu berarti kita  :
  1. Telah menghubungkan diri kita dengan Sumber Energi Kehidupan yang tiada akan pernah ada habisnya, yaitu Allah SWT selaku Pencipta dan Pemilik kehidupan ini. Dari beberapa kisah yang penulis baca, dengar, dan lihat dari para pejuang kebenaran, mereka seolah berada di luar kekuatan manusia. Menyaksikan kenyataan hidupnya yang penuh dengan mobilitas dan kesuksesan pada sisi duniawi dan ukhrawi, seoalah tiada waktu tidur baginya, penulis bertanya, “kapan mereka tidur?”. Namun mereka tetap bugar hingga usia tua. Waktu tidur yang sangat minim untuk ukuran orang kebanyakan namun tetap bugar, seolah menentang terori ilmiah tentang waktu tidur agar fisik tetap bugar yaitu 8 jam sehari – semalam. Hal ini mudah saja  difahami dengan logika akal. Semua teori dan ilmu bersumber dari Yang Maha Tahu yaitu Allah SWT. Ilmu Allah SWT melingkupi alam fisik dan metafisik. Sedangkan teori ilmiah hanya melingkupi alam fisik. Teori ilmiah hanya menjelaskan hubungan antara faktor fisik dengan faktor fisik. Teori ilmiah belum bisa menjelaskan hubungan antara faktor fisik dan faktor metafisik. Itulah sebabnya secara ilmiah  jika misalnya berbicara tentang kebugaran maka salah satu  hubungannya adalah waktu tidur yang cukup. Alam semesta terbentang dengan luasnya. Bumi tempat kita bernaung hanyalah setitik debu dan nyaris tak terlihat di tengah – tengah bentangan alam semesta. Teori ilmiah yang dikuasai manusia sangat relatif dan baru mencapai bumi serta sedikit menembus beberapa benda ruang angkasa. Sangat jauh dari berarti jika dibanding dengan lingkup ilmu alam semesta.  Sangat banyak yang belum atau tidak bisa diketahui manusia sementara tak terbatas pengetahuan Allah SWT. Dan dengan ke-Maha Kuasaan-Nya, bisa saja Allah SWT merubah fenomena atau kejadian tidak sejalan dengan teori – teori ilmiah.
  2. Kita akan bisa menyeleraskan rencana kita dengan rencana Allah SWT. Alangkah indahnya jika rencana kita direstui oleh Allah SWT atau rencana kita dijadikan sebagai rencana-nya Allah SWT. Untuk mewujudkan rencana itu, “Ya tanggung jawab Allah SWT”. Dan kita memahami, bahwa Allah SWT tak pernah ingkar janji.
  3. Kita akan relatif  mengetahui upaya – upaya yang tepat (efektif dan efisien) dalam mewujudkan setiap rencana kita. Dengan senantiasa mendahulukan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT maka kita akan dibimbing dalam mewujudkan rencana – rencana kita. Dibimbing dalam tahap pembuatan rencana hingga langkah – langkah mewujudkannya. Hal ini akan menghindarkan atau setidaknya mengurangi spekulasi sebagai konsekuensi dari keterbatasan kemampuan dan pengetahuan.
  4. Dengan melakukan upaya – upaya yang terbimbing di atas maka kita telah menghindarkan sesuatu yang sia – sia dalam hidup ini. Sesuatu yang sia – sia adalah sesuatu yang kita berikan pengorbanan kepadanya namun tidak memberikan hasil apa – apa, baik hasil materi maupun non materi berupa pahala dan ridho Allah SWT.

Allah SWT. Berkonsultasilah dengan Allah SWT. Bangun kedekatan dengan-Nya, baru mulai rencana dan mewujudkannya. Hanya dengan kedekatan dengan-Nya kita akan mampu menangkap petunjuk – petunjuk – Nya, mendapat kekuatan, perlindungan dan jaminan dalam mencapai tujuan yang terbaik.

Jangan sampai kita terlalu berfokus pada rencana dan kerja keras sehingga rencana dan kerja keras itu menjadi tandingan Allah SWT dalam hal menentukan hasil akhir, pada Allah SWT tiada tandingnya.   Musyrik adalah menandingkan kemampuan Allah SWT dengan “yang lainnya”. Pengertian “yang lainnya”  bukan terbatas pada hal atau benda yang lahir atau tertangkap indra saja seperti patung, keris, pohon besar, dan lain sebagainya. Tetapi pengertian “yang lainnya” juga termasuk hal – hal lain yang tidak nampak, seperti ide, usaha, pemikiran, kehebatan manusia, dan lain sebagainya, yang diyakini bisa menentukan hasil akhir dan mengambil alih kewenangan kemampuan Allah SWT.

Hindarkan diri dari “musyrik dalam usaha” dengan hanya berfokus pada rencana dan usaha manusiawi dan meyakini itulah jaminan keberhasilan sehingga lupa dan membelekangkan Maha Peran Allah SWT. Allah SWT tidak suka musyrik dan menjadikannya sebagai pendosa besar. Dan berhati – hatilah kita dalam menjaganya sehingga tidak memasuki wilayah musyrik itu, sekalipun bermula dari hal – hal yang tidak kita sadari semisal “musyrik dalam usaha”.

Related Post :